Apakah Hantu Itu Ada??

Pernahkah Anda melihat hantu? Apakah hantu sama dengan jin? Lalu kuntilanak, pocong, gendruwo termasuk genre apa? Apakah kesurupan benar-benar ada? Mengapa orang asing yang datang ke Indonesia tidak bisa kesurupan? Dapatkah orang luar daerah kesurupan lalu berbicara dengan bahasa daerah?

Mengapa jin atau hantu atau roh halus di setiap negara bentuknya berbeda-beda?

Kucing saja di Amerika sama di Amriki sama, suaranya juga sama. Lalu kenapa ada orang lain yang bisa dan orang lain tidak bisa liat. Coba kita ambil contoh kucing. Kucing jantan, semua jenis feline itu sesalu menandai tempatnya dengan kencing. Setelah kencing keluar, manusia tidak bisa melihat apa-apa setelah kering, namun bagi kucing, dimana matanya bisa menerima 50% sinar ultraviolet, ia melihat kencing itu bewarna. Lalu bisa mendekat dan mengendusnya untuk mengetahui milik siapa. Secara fisik kucing bisa melihat sinar ultraviolet. Tidak ada kucing yang tidak bisa melihat sinar ultraviolet.

Lalu mengapa manusia ada yang bisa melihat jin dan ada yang tidak bisa melihat jin?

Kalau secara fisik tidak mungkin melihat, sama seperti manusia secara umum tidak mungkin bisa melihat sinar ultraviolet, maka tidak mungkin bila satu manusia bisa melihat setan dan manusia lain tidak bisa kecuali ia kelainan. Kalau kelainan kenapa jumlahnya cukup banyak? Lalu kenapa garis keturunannya tidak jelas. Harusnya seperti buta warna dan kidal, ada gen pembawanya. Kalau begitu harusnya melihat hantu itu juga begitu. Ada klan yang lebih bisa melihat hantu dibandingkan klan lainnya. Lalu kenapa orang yang bisa melihat hantu itu random?

India merupakan negara dengan pemeluk agama Hindu terbesar, disana mereka mengenal berbagai macam dewa, dan hantu. India negara dengan tim IT terbanyak. Dengan terpilihnya sundar Pichai, maka ia otomatis memajukan negaranya, hasilnya remote work banyak dari orang india karena Pichai membantu orang-orang india ahli di bidang IT. Walaupun menjadi negara nomor satu dalam hal IT, di india, dalam dunia akademik tetap tidak mengenal hantu. Penelitiannya tidak ada tentang hantu.

Di china, negara komunis secara terang-terangan memerangi kepercayaan kuno demi memajukan negaranya. Seperti kita ketahui, di china juga mengenal banyak dewa, namun berbeda dengan di india dimana dewa dipuja setiap waktu, orang china datang ke dewa saat ada maunya saja. Di china juga tidak ada penelitian tentang jin. Apakah jin benar-benar ada?

Kita kembali ke Indonesia. Orang-orang kita itu memang menomor satukan agama. Karena dalam pancasila, sila pertama adalah ketuhanan yang maha esa. Jadi secara teknis, tidak salah bila kita menjunjung tinggi agama kita, dimana 95% penduduknya beragama muslim. Bandingkan dengan Malaysia dimana penduduk beragama muslimnya hanya 60% tapi undang-undang negaranya berdasarkan peraturan agama islam sebagian besar.

Karena kita menjunjung tinggi agama, maka tidak heran bila masyarakat sebagian besar bilang, yang penting kuat agama, ilmu lain itu cuman sampingan. Hasilnya apa? Begitu terjun di masyarakat, ia tidak memiliki keterampilan khusus. Jadi susah cari kerja. Lalu akhirnya tidak bekerja. Akhirnya mulai ada konflik dari angel dan demon nih.

Kalau angel menang, ia akan bekerja apa saja penting bisa makan.

Kalau demon yang menang maka akan melakukan tindakan kriminal.

Menurut aku, agama itu bukan nomor satu. Agama itu faith. Artinya adalah pegangan. Posisinya bukan di 1, tapi di nol. Sifatnya tidak terlihat tapi ada. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah 1. Sifatnya nyata. Bisa digunakan di masyarakat secara langsung.

 

Jadi intinya, kita itu wajib belajar agama, namun tanpa ilmu pengetahuan, kita tidak berguna di masyarakat, kalau tidak berguna kita akan menjadi beban di masyarakat. Bukannya mencari uang itu dapat pahala? Pahala gak cuman di dapatkan dari puasa. Itupun puasanya karena gak punya uang.

Previous Article Next Article

Comments

Add comment